23 February, 2010

Wartawan


Siapakah Wartawan itu?

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari www.penulissukses.com/penulis37.php, wartawan adalah orang yang bekerja dan mencari nafkah sepenuhnya dari media massa. Tugas pokoknya sebagai peliput, penyusun berita dan menyebarkan berita.
Adapun kewartawanan, Dalam Undang-Undang No. 11 tahun 1996, pasal 1 ayat 3 disebutkan: “Kewartawanan ialah pekerjaan/kegiatan/ usaha yang berhubungan dengan pengumpulan, pengelolaan dan penyiaran dalam bentuk fakta, pendapat, ulasan, gambar-gambar dan lain-lain sebagainya untuk perusahaan, radio, televisi dan film”.

Dalam sumber lain yang saya petik dari http://id.wikipedia.org/wiki/Wartawan, wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan jurnalisme, yaitu orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/ dimuat di media massa secara teratur. Laporan ini lalu dapat dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.

Hafizansyari menambahkan dalam blognya www.hafizansyari.blogspot.com yang mendefinisikan wartawan berdasarkan prinsip jurnalistik adalah sebuah profesi yang penuh dengan etika dan tata cara maupun aturan dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, setiap orang yang melanggar aturan maupun kode etik tersebut dapat dikatakan bukan sebagai "wartawan" dan hasil karyanya pun bukan merupakan karya jurnalistik.

Dari ketiga definisi tersebut, dapat saya simpulkan bahwa wartawan adalah orang yang bekerja mengumpulkan berita berupa laporan yang dikirimkan/ dimuat di media massa dalam susunan laporan yang rapi dengan tidak melanggar aturan ataupun kode etik kewartawanan.


Apakah Fungsi dan Tugas Wartawan itu?

Dalam http://www.penulissukses.com/penulis37.php ditegaskan bahwasannya fungsi dan tugas wartawan pada dasarnya ada tiga, yaitu :
1. Peliput; seorang wartawan berfungsi sebagai peliput setiap peristiwa yang terjadi untuk menjadi bahan berita.
2. Penyusun; peristiwa yang telah diliput akan disusun menjadi suatu berita yang menarik buat publik.
3. Penyebar informasi; berita yang telah disusun akan disampaikan kepada publik, berita itu menjadi informasi buat mereka.

Blog ovy dalam http://ovhy-net.blogspot.com/2010/02/tugas-jurnalis.html menambahkan bahwasannya fungsi utama tugas wartawan adalah :
1. menyajikan informasi
2. memberikan pendidikan
3. memberikan hiburan

Dengan demikian, fungsi dan tugas seorang wartawan adalah sebagai peliput, penyusun dan penyebar infomasi, dengan penyajian informasi yang memberikan pendidikan dan hiburan.


Wartawan Ideal

Tulisan dalam http://ovhy-net.blogspot.com/2010/02/tugas-jurnalis.html menjelaskan bahwasannya Seorang wartawan dituntut untuk dapat memenuhi persyaratan tertentu, yaitu :
a. memiliki kecerdasan
b. memiliki rasa ingin tau yang tidak ada habis-habisnya
c. peduli terhadap masyarakat
d. berani untuk berbeda pendapat dengan pihak yang berkuasa
Selain itu, orang yang bekerja sebagai seorang wartawan hendaknya mentaati kode etik yang telah diakui dan diterima oleh organisasi tersebut.

Dalam http://www.kabarindo.com/?act=dnews&no=4140, Ir. Tifatul Sembiring berpendapat bahwa standar kompetensi wartawan yang ideal adalah :
1. Visi tentang kewartawanan (Dunia Jurnalistik)
2. Pendidikan dan Skill
3. Kemampuan Berkomunikasi
4. Punya Etika dan Moral

Sehingga simpulan yang saya dapatkan mengenai wartawan ideal adalah seorang wartawan yang memiliki visi tentang kewartawanan (yang dapat menjalankan fungsi dan tugas dari wartawan itu sendiri), berpendidikan dan memiliki skill (dalam hal ini memiliki kecerdasan), memiliki rasa ingin tahu dengan tanpa batas, peduli terhadap masyarakat, berani memiliki pendapat yang berbeda dengan orang yang memiliki kuasa, serta memiliki etika dan moral yang baik.


Wartawan di Indonesia

-Rosihan Anwar
H. Rosihan Anwar (lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922; umur 87 tahun) adalah tokoh pers Indonesia, meski dirinya lebih tepat dikatakan sebagai sejarawan, sastrawan, bahkan budayawan. Rosihan yang memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an, tercatat telah menulis 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah utama di Indonesia dan di beberapa penerbitan asing.


-Akmal Nasrey Basral
Akmal Nasrey Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.


-Goenawan Mohamad
Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941; umur 68 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo. Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.




-Jason Tedjakusuma
Jason Tedjasukmana (lahir 1967) adalah seorang wartawan Indonesia. Kariernya di Indonesia diawali sebagai wartawan untuk RCTI Seksi bahasa Inggris. Ia kemudian bergabung dalam jajaran MetroTV untuk program berbahasa Inggris. Jason saat ini bekerja di TransTV dan menjadi koresponden untuk Time Asia di Indonesia. Sejak 2008 ia didaulat menjadi presiden Jakarta Foreign Correspondence Club, organisasi para koresponden berita asing di Jakarta.


Siapakah Citizen Journalism itu?


Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism, dikatakan bahwa
Citizen journalism (also known as "public", "participatory", "democratic" or "street journalism") is the concept of members of the public "playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information," according to the seminal 2003 report We Media: How Audiences are Shaping the Future of News and Information. Authors Bowman and Willis say: "The intent of this participation is to provide independent, reliable, accurate, wide-ranging and relevant information that a democracy requires."
Citizen journalism should not be confused with community journalism or civic journalism, which are practiced by professional journalists, or collaborative jpurnalism, which is practiced by professional and non-professional journalists working together. Citizen journalism is a specific form of citizen media as well as user generated content.

yaitu Jurnalisme warga (juga dikenal sebagai "publik", "partisipatif", "demokratis" atau "jalan jurnalisme" adalah konsep anggota masyarakat "memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, menganalisis dan menyebarkan berita dan informasi, "menurut laporan 2003 seminalis Kami Media: Bagaimana Audiens yang Membentuk Masa Depan Berita dan Informasi. Penulis Bowman dan Willis mengatakan:" Tujuan dari partisipasi ini adalah untuk memberikan independen, dapat diandalkan, akurat, luas dan informasi relevan yang memerlukan sebuah demokrasi. "

Jurnalisme warga negara tidak boleh disamakan dengan masyarakat sipil jurnalisme atau jurnalistik, yang dilakukan oleh wartawan profesional, atau jurnalisme kolaboratif, yang dilakukan oleh profesional dan non-jurnalis profesional bekerja sama. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga negara maupun user generated content.


Apakah Citizen Journalism itu Wartawan juga?

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwasannya Jurnalisme warga negara/ citizen journalism tidak boleh disamakan dengan masyarakat sipil jurnalisme atau jurnalistik, yang dilakukan oleh wartawan profesional, atau jurnalisme kolaboratif, yang dilakukan oleh profesional dan non-jurnalis profesional bekerja sama. Jurnalisme warga adalah bentuk khusus dari media warga negara maupun user generated content.

Kalau orang yang bekerja sebagai penulis untuk sebuah harian disebut wartawan atau jurnalis, maka orang yang menulis di citizen jurnalism website atau situs jurnalisme warga seperti Wikimu ini akan disebut citizen jurnalist, jurnalis warga atau wartawan warga.
Perlu diketahui bahwa wartawan warga mempunyai latar belakang profesi yang berbeda-beda, sehingga membuat sedikit kesulitan untuk menentukan suatu metode pelatihan yang pas untuk kemudian dipraktekkan secara nyata. Tetapi, tidak ada sedikitpun keraguan bahwa dengan sebuah pelatihan kecil – seperti yang akan diselenggarakan oleh administrator Wikimu dengan judul Mentoring Menulis via Online – seorang wartawan warga dapat memperbaiki mutu dari kisah yang akan ditulis, mengatasi kejemuan untuk menulis, atau ingin memperluas pengetahun dengan saling berbagi sesama wartawan warga.
Yang pertama-tama harus diingat dan diperhatikan adalah seorang wartawan warga mempunyai dua tugas penting: Pertama dia harus berusaha untuk meningkatkan komitmen dan partisipasi kewarganegaraannya. Seorang wartawan warga sangat perlu melatih dirinya untuk memiliki sikap yang benar agar dapat berperan untuk peningkatan kepahamannya akan kewajiban dan hak-hak sebagai warga negara. Kedua seorang wartawa warga hendaknya menularkan pemahamannya itu kepada warga negara lainnya dengan baik melalui tulisan-tulisannya.
Untuk melatih diri sebagai seorang wartawan warga, kita harus memahami bahwa yang pertama dituntut dari diri kita adalah menghasilkan isi tulisan yang terpercaya, akurat dan adil. Kewartawanan warga harus lebih dari sekedar pembungkus berita dan ide, dan mencampurnya dengan kepentingan pribadi serta atribut-atribut yang diharapkan.
Seorang wartawan warga perlu untuk mengapresiasi bahwa apapun yang dibuatnya, baik berupa tulisan atau foto harus terpercaya, dan jangan sampai memancing terjadinya sebuah kejahatan sosial. Dengan cara itu, seorang wartawan warga dapat secara efektif berperan dalam ruang lingkup yang lebih luas.
Sebagai seorang wartawan warga yang bercita-cita tinggi, langkah kunci dalam memasuki pelatihan adalah memiliki sebuah pemahaman yang jelas akan hal-hal yang diterima dengan cara mempraktekkannya.
Seorang wartawan warga sebenarnya adalah sebuah jembatan penghubung antara tugas-tugas kewartawanan secara profesional dengan keikutsertaan warganegara secara langsung. Beberapa sudut pandang wartawan media umum seringkali tidak membawa secara penuh pesan-pesan dari hati masyarakat, maka adalah tugas wartawan warga untuk menyampaikan dan menyajikannya untuk diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pemerintah yang berkuasa umpamanya.
Keberpihakan seorang wartawan warga adalah hal yang sulit untuk dihindari. Namun alangkah baiknya apabila seorang wartawan warga melatih diri untuk menghindari keberpihakan itu. Pendalaman akan materi yang akan ditulis serta keterkaitan dengan hukum yang berlaku serta dampak-dampak yang mungkin terjadi, harus menjadi dasar pemikiran utama sebelum seorang wartawan warga menerbitkan tulisannya.
Seorang wartawan warga harus melatih diri untuk memiliki kesadaran akan akibat-akibat yang mungkin terjadi di tengah masyarakat sebagai pengaruh langsung dari pemikiran-pemikiran yang sedang ditulisnya.
Prinsip, norma dan kode etik kewartawanan yang profesional bisa menjadi bahan acuan seorang wartawan warga untuk dapat menulis dengan tujuan, ketelitian, kebenaran dan kewajaran.
Bagaimanapun, seorang wartawan warga harus menyampaikan dengan lugas, jelas dan tegas, pemikiran, pengamatan, gagasan dan pengalaman atas hal-hal yang dibahasnya. Dan juga meyakinkan pembacanya bahwa yang disajikannya adalah buah pemikiran yang bersih dari keterikatan politik, gender, budaya dan ras.
Dengan membebaskan diri dari bias-bias, seorang wartawan warga mempunyai posisi yang lebih baik untuk mengatakan secara terbuka keseluruhan kisah yang sengaja disembunyikan kebenarannya oleh pihak tertentu dan secara sengaja menghambat kebebasan untuk mengungkapkannya. Namun dengan tetap memperhatikan dan menghindari dampak-dampak yang mungkin terjadi akibat dari tulisan yang dibuatnya. Jadi diperlukan kerja keras untuk melihat fakta-fakta yang tersembunyi dibalik sebuah berita.
Kunci lain yang penting adalah melatih diri untuk selalu melakukan riset yang mendalam atas isu-isu yang ada. Banyak membaca buku, literatur-literatur, dan sering menjelajahi dunia maya dan mencari situs-situs terkait adalah upaya-upaya yang sebaiknya secara rutin dilakukan. Situs-situs tersebut adalah sebuah perpustakaan maha besar yang memberikan banyak informasi sebagai bahan kajian dalam membuat sebuah tulisan.
Adalah tugas seorang wartawan warga untuk menyaring fakta-fakta dan menyajikannya dalam bentuk informasi yang terpercaya. Riset yang mendalam membantu ke arah membuat tulisan yang lebih baik.
Kesimpulannya adalah seorang wartawan warga harus dengan sadar bahwa dia bertanggung jawab sebagai transmisi ide-ide dan pengetahuan. Sebagai bukti rasa tanggung jawab itu, maka seorang wartawan warga harus meneliti fakta-fakta, menulis kebenaran, namun dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat luas.

13 February, 2010

Bersyukur atas apa yang telah الله kasih

Di pagi hari yang cerah ini, tepatnya hari minggu yang bertepatan dengan perayaan Imlek dan Hari Kasih sayang / Valentine, saya tidak henti-hentinya untuk terus mengucap syukur atas apa yang telah الله kasih. Begitu banyak sekli keajaiban-keajaiban yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Blog yang akan saya ulas saat ini, akan lebih mengkonsentrasikan akan pentingnya bersyukur. Di beberapa cerita sebelumnya pun, saya menuliskan mengenai rasa syukur. Entah mengapa saya selalu ingat akan pesan guru agama saya bahwasannya ketika kita nersyukur atas apa yang kita punya niscaya الله akan menambahnya namun ketika kita kufur atas apa yang telah الله kasih maka niscaya الله akan marah.

Hidup akan terasa indah apabila kita memiliki banyak teman yang dapat mendukung kita dalam setiap tindakan kita yang positif, الله memang baik karena-Nya, kita dapat saling mengenal dan saling menyayangi satu sama lain. Pepatah mengatakan bahwasannya tak kenal maka tak sayang. Di sini saya mengajak teman-teman semua untuk saling memahami dan menyayangi teman-teman kita. Terkadang orang melihat dan mau berteman dengan orang lain jika fisik, materi, ilmu yang dimilikinya tergolong baik. Padahal setiap orang itu memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing loh.

Suatu ketika saat salah satu teman saya, dijauhi oleh teman-teman yang lain karena dia terlihat kusam, tak bermateri dan lain sebagainya sehingga sedikit sekali yang mau berteman dengannya. Saya pada saat itu mencoba untuk mendekatkan diri dan mengenal lebih dalam tentang dia, dia ternyata tidak pesimis dengan keadaan itu. Dia tetap bersyukur atas apa yang dia punya walaupun teman-temannya menjauhi dia namun dia berkata : "saya sangat mensyukuri atas apa yang الله kasih karena setiap apa yang kita miliki, semuanya hanyalah titipan الله, semua akan kembali kepada-Nya"

Ucapan yang dia lontarkan membuat hati saya bergetar bahwa terkadang orang menyombongkan dan bangga akan harta yang mereka miliki serta mereka selalu mengininkan yang lebih daripada itu dan tidak mensyukuri atas apa yang saat ini mereka punya. Ingat, الله bisa saja mencabut sewaktu-waktu atas apa yang kita miliki jika Dia menghendaki. Oleh sebab itu janganlah selalu melihat ke atas (terhadap orang-orang yang lebih dari kita) namun lihatlah ke bawah (terhadap orang-orang yang kurang dari kita) kemudian renungkan dan cobalah untuk mensyukurinya.

Semoga hari-hari kita semua selalu dalam ridho الله. Amiin

-Angga Permana Freud-

12 February, 2010

You should know

There once was a little boy who had a bad temper. His father gave him a bag of nails and told him that every time he lost his temper, he must hammer a nail into the back of the fence. This first day the boy had driven 37 nails into the fence. Over the next few weeks, as he learned to control his anger, the number of nailshammered daily gradually dwindled down. He discovered it was easier to hold his temper than to drive those nails into the fence. Finally the day came when the boy didn't lose his temper at all. He told his father about it and the father suggested that the boy now pull out one nail for each day that he was able to hold his temper. The days passed and the young boy was finally able to tell his father that all the nails were gone. The father took his son by the hand and led him to the fence.
He said, "You have done well, my son, but look at the holes in the fence. The fence will never be the same. When you say things in anger, they leave a scar just like this one. You can put a knife in a man and draw it out. But it won't a matter how many times you say I'm sorry, the wound will still be there. A verbal wound is as bad as a physical one. Remember that friends are very rare jewels, indeed. They make you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, they share words and praise and they always want to open their hearts to us...

Regards --> Angga Permana Freud

Do you really Love me

bukannya ku tak percaya
bukannya ku tak bersyukur
atas yang ku terima
selama ini dari kamu

sungguh ku hanya berharap
kalau ku satu-satunya
manusia di hatimu
yang kau cintai selamanya

do you really love me
jangan marah padaku
wajarku ku ingin tahu
seberapa kau cintaiku

semua karena hatiku
hanya bisa untukmu
ku hanya memastikan
do you really love me

11 February, 2010

Ketika Cinta, untuk Anda

Ketika Cinta


Ada tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggil-Mu
Karna setiap jiwa t’lah bersumpah
Setia hanyalah kepada-Mu

Bila cinta ada di dalam jiwa
Wangi bunga dunia tanpa nestapa
Segala yang dirasa hanyalah Dia
Hati ‘kan memuja hanya pada-Nya


Ketika cinta memanggil
Gemetar tubuhku
Ketika cinta memanggil
Hangatnya nafasku
Ketika cinta memanggil
Menderu sang rindu
Ketika cinta memanggil