10 May, 2011

Saat seorang PR memberi uang tip kepada para wartawan


Saat seorang PR memberikan uang tip untuk para wartawannya demi kepentingan perusahaannya, jika dilihat dari etika profesi seorang Public Relations, hal tersebut selayaknya tidak perlu dilakukan karena dapat membuat image/citra seorang PR menjadi buruk di mata para wartawannya. Perlu kita ingat bahwasannya tidak semua wartawan menerima uang tip di dalam peliputan beritanya walaupun sudah banyak terbukti juga bahwa dalam kenyataannya banyak para wartawan yang menerima uang tip bahkan ada juga oknum dari para wartawan yang mengancam tidak akan menayangkan pemberitaan mengenai suatu perushaan jika wartawan yang bersangkutan tidak diberikan uang tip oleh pihak perusahan yang dimaksud (Public Relations). Banyak sekali kasus yang terjadi pada seorang Public Relations yang menganggap wartawan itu sebagai musuh di dalam selimut sehingga berpikiran bahwa setiap wartawan selalu menerima uang tip, padahal hal tersebut sebenarnya bisa menyinggung para wartawan yang tidak menerima uang tip.

Selain itu, hendaknya seorang PR perlu memahami prinsip-prinsip etika profesi, yakni adanya tanggungjawab yang lebih mementingkan kepentingan orang banyak serta mementingkan orang-orang yang dilayaninya, jika wartawan yang meliput press confrence tersebut tidak meminta uang tip, sebaiknya PR yang bersangkutan tidak perlu memberi uang tip tersebut namun akan lebih baik jika ditanyakan terlebih dahulu dengan sopan dan bersahabat, apakah wartawan tersebut terbiasa dengan uang tip atau tidak sehingga tidak menyinggung wartawan yang meliput serta tidak mengabaikan prinsip tanggungjawab seorang PR yang juga mementingkan kepentingan orang-orang yang dilayaninya (dalam hal ini para wartawan dan publik/khalayak luar).

Selain prinsip bertanggungjawab, di dalam etika profesi terdapat prinsip keadilan, yakni dalam hal ini seorang PR tidak boleh merugikan pihak yang menjadi client yang dilayaninya. Sehingga jika wartawan merasa dirugikan akibat pemberian uang tip yang dilakukan oleh seorang PR, maka dalam hal ini seorang PR tidak memiliki prinsip keadilan di mana hanya mementingkan kepentingan perusahaannya saja dengan mengabaikan kepentingan dari wartawan yang meliput press confrence tersebut. Sulit dipungkiri pula bahwa di Indonesia sendiri masih banyak wartawan yang melihat pemberian uang tip sebagai hak dasar mereka untuk meliput suatu berita di dalam sebuah press confrence. Akan tetapi, saya tetap memandang keprofesionalitasan suatu profesi atas dasar etika dan sikapnya dalam bekerja, sehingga uang tip yang diberikan hanyalah berupa apresiasi dalam bentuk bonus dari hasil kerjanya, bukan karena kepentingan perusahaan yang diliputnya saja.

Prinsip-prinsip lain dalam sebuah etika profesi adalah prinsip otonomi dan prinsip integritas moral. Mengacu pada prinsip otonomi, sebetulnya seorang PR yang memberikan uang tip tersebut akan menerima konsekuensinya terhadap apa yang diperbuatnya. Mungkin pemberitaan mengenai perusahaanya akan dinilai baik oleh masyarakatnya akan tetapi citra dari perusahaan tersebut akan jelek di mata para wartawannya karena dianggap rendah dengan memberikan uang tip kepada para wartawan dengan maksud pemberitaan mengenai perusahaannya diliput dan dipublikasikan.

Sedangkan, jika mengacu kepada prinsip integritas moral, PR yang memberikan uang tip tersebut sebenarnya memiliki integritas moral yang rendah di mata saya karena PR tersebut hanya mementingkan kepentingan perusahannya agar dinilai baik di mata masyarakatnya tanpa melihat keoentingan orang-orang disekitarnya (dalam hal ini adalah para wartawan yang tidak terbiasa menerima uang tip).

Terimakasih :)

09 May, 2011

Perspektif Kuantitatif atau Kualitatif?



Menguasai kedua perspektif (pendekatan) baik pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif sangatlah penting. Becker (Mulyana, 2001: 5) mendefinisikan perspektif atau pendekatan sebagai seperangkat gagasan yang melukiskan karakter situasi yang memungkinkan pengambilan tindakan. Sehingga, berdasarkan pemahaman saya, perlunya memahami kedua pendekatan agar kita dapat mengimplementasikan suatu permasalahan dari berbagai sisi.

Yakni dari perspektif kualitatif yang notabennya lebih menitikberatkan terhadap kesubjektifan hasil data yang mendeskripsikan, dan mengkritisi suatu fenomena yang ada secara lebih khusus dan mendalam. Sedangkan perspektif kuantitatif lebih menitikberatkan terhadap keobjektifan hasil data yang dapat mempengaruhi suatu fenomena sosial dan menghubungkannya dengan fenomena lain sehingga di dalam pendekatan kuantitatif mengkaji mengenai besaran, jumlah, intensitas, frekuensi, pengaruh, serta hubungan dari satu fenomena dengan fenomena yang lainnya.

Secara umum pendekatan kuantitatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
•Hubungan riset dengan subjek  jauh. Hal ini dapat diartikan bahwasannya seorang peneliti menganggap sebuah realitas terpisah dengan dirinya, oleh sebab itu perlu adanya jarak agar keobjektifitasan hasil data dapat terjaga dengan baik.
•Riset bertujuan untuk menguji teori atau hipotesis, mendukung atau menolak teori. Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa data dijadikan sebagai sarana konfirmasi teori atau dengan kata lain teori dibuktikan dengan data.
•Riset harus dapat digeneralisasikan. Hal ini menuntut sampel yang representatif dari seluruh populasi,operasionalisasikonsep serta alat ukur yang valid dan realibel.
•Prosedur riset rasional  empiris, maksudnya adalah riset berangkat dari teori-teori dan konsep-konsep yang melandasinya.

Sedangkan pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
•Intensif, peneliti melakukan riset penelitiannya cnderung lebih lama dibandingkan dengan peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif.
•Perekaman dilapamgan dilakukan dengan hati-hati terhadap apa yang terjadi dengan catatan-catatan dan tipe-tipelain dari bukti dokumenter.
•Analisis data di lapangan.
•Hasil data dideskripsikan secara detail dan terperinci.
•Menyikapi permasalahan secara subjektif, periset bertindak sebagai sarana penggalian interpretasi data.
•Realitas adalah holistik dan tidak dapat dipilah-pilah.
•Peneliti menjelaskan penjelasan-penjelasan yang menjadi ciri khasnya tentang sesuatu yang terjadi dan tentang individu-individunya.
•Penelitian dilakukan berdasarkan keingintahuan fenomena secara lebih mendalam bukan terhadap keluasannya.
•Prosedur risetnya bersifat empiris dan tidak berstruktur.
•Hubungan antara teori,konsep dan data melahirkan teori baru.

Implikasi terhadap hasil penelitian yang diperolehnya yakni penguasaan terhadap pendekatan kuantitatif dapat membuat peneliti dapat menggunakan hasil penelitiannya untuk riset keilmuan yang menitikberatkan terhadap kuntitas dari besaran, frekuensi, intensitas, hubungan serta pengaruh dari suatu fenomena dengan fenomena yang lainnya yang kemudian hasil daripenelitian tersebut diverifikasi oleh teori yang berkaitan.

Sedangkan implikasi terhadap penelitian yang mengunakan pendekatan kualitatif adalah peneliti dapat mengkritisi suatu permasalahan sosial secara lebih mendalam dan lebih menitikberatkan terhadap kualitas dari suatu fenomena yang ada yang kemudian hasil dari penelitian tersebut dijadikan sebagai landasan teori.

(Sumber : Kriyantono, Rachmat, Teknis Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Cetakan ke-5, Desember 2010.)